Powered by Blogger.

Saturday, 31 March 2012

SKRIPSI : ANALISIS KAUSALITAS INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI (Kasus Perekonomian Indonesia Tahun 1994.1 – 2003.4) Dengan Metode Error Corection Model (Yunita Setyawati)





BAB I

PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang

Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang sangat ditakuti oleh semua negara didunia, termasuk Indonesia. Apabila inflasi ditekan dapat mengakibatkan meningkatnya tingkat pengangguran, sedangkan tingkat pengangguran adalah salah satu simbol dari rendahnya produksi nasional yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Maknun, 1995).

Pembicaraan mengenai Inflasi di Indonesia mulai populer ketika laju inflasi demikian tinggi hingga mencapai 650 persen pada dasawarsa 1960an. Berdasarkan pengalaman pahit teresebut, pemerintah berusaha untuk mengendalikan laju inflasi. Pada tahun 1972 sampai dengan 1980an rata-rata laju inflasi di Indonesia masih berada pada level dua digit, tetapi pada tahun 1984 sampai tahun 1996 laju inflasi dapat dikendalikan pada level satu digit. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997membuat laju inflasi di Indonesia naik menjadi dua digit yaitu sebesar 11,05 persen
dan mencapai puncaknya pada tahun 1998 sebesar 77,63 persen (Badan Pusat Statistik) Kondisi perekonomian Indonesia pasca krisis moneter mulai mengalami perbaikan. Hal ini dilihat dari menurunnya laju inflasi sebesar 75,62 persen menjadi 2,01 persen pada tahun 1999. laju inflasi pada tahun 2001 sampai 2002 kembali naik pada level 2 digit yaitu sebesar 12,55 persen dan 10,05 persen. Penyebab tingginya laju inflasi tersebut, selain kondisi keamanan dalam negeri yang kurang kondusif juga dipicu oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif listrik, dan telepon (Badan Pusat
Statistik).

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi di indonesia juga mengalami banyak perubahan selama dekade 1970an dan 1980an, proses pembangunan di Indonesia mengalami banyak hambatan yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti merosotnya harga minyak mentah internasional menjelang pertengahan tahun 1980an dan adanya resesi ekonomi dunia. Karena Indonesia sejak pertengahan orde baru
menganut sistem ekonomi terbuka, goncangan-goncangan tersebut sangat terasa dampaknya terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional. (Tambunan, 2001:11).

Dampak negatif dari resesi ekonomi dunia pada tahun 1982 terhadap perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi yang rendah untuk periode 1982-1988 yaitu sekitar 3,62 persen. Selama periode 1993-1995 rata-rata pertumbuhan pertahun meningkat menjadi 7,3 hingga 8,2 persen, tetapi akibat krisis yang melanda Indonesia laju pertumbuhan ekonomi nasional menurun drastis. Pada tahun 1998 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13,13 persen dengan laju inflasi sebesar
77,63 persen. Kondisi ini sangat memprihatinkan dimana harga-harga melambung tinggi sehingga masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Tambunan, 2001 : 12-13). Berdasarkan pangalaman pahit itu, pemerintah senantiasa berusaha untuk mengendalikan laju inflasi. Hal ini terbukti dengan menurunnya laju inflasi dari Pelita ke Pelita, yaitu pada Pelita I rata-rata laju inflasi pertahun 17,48 persen, kemudian Pelita II dan III masing-masing 14,77 persen dan 13,6 persen sedangkan pada Pelita IV menurun secara drastis yaitu 6,59 persen (Nota keuangan dan RAPBN, 1993-1994).

Menurunnya laju inflasi dari Pelita ke Pelita tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan ekonomi, bahkan terjadi sebaliknya. Keadaan ini dapat dilihat dari ratarata pertumbuhan ekonomi yang menurun dari Pelita ke Pelita yaitu pada Pelita I sebesar 18,2 persen, Pelita II dan III masing-masing 7,2 persen dan 6,1 persen, dan pada pelita IV menurun lagi menjadi 5,2 persen. Terdapat suatu perbedaan antara inflasi pada periode sebelum dan sesudah krisis ekonomi 1997. pada periode sebelum 1997, inflasi walaupun masih bertahan sekitar 8 persen pertahun, telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang impresif (rata-rata 7 persen setahun) selama 28 tahun dengan peningkatan penciptaan kesempatan kerja (tiap 1 persen pertumbuhan menciptakan 400.000 lapangan kerja) sehingga tingkat pengangguran terbuka turun menjadi hanya 4%.(Kompas, 7 agustus 2004)

Setelah 1997 walaupun inflasi berhasil diturunkan menjadi 5 persen dalam tahun 2003, tapi ternyata pertumbuhan ekonomi hanya hanya meningkat menjadi 4,8 persensetahun, sedangkan pengangguran terbuka meningkat menjadi 10 persen, karena tiap 1 persen pertumbuhan hanya menciptakan 250.000 lapangan kerja yang sebagian besar merupakan lapangan kerja dengan nilai tambah (value added) yang rendah disektor informal, karena sektor formal hampir-hampir tidak tumbuh. Ini pun belum memperhitungkan orang yang setengah menganggur dan tambahan tenaga kerja baru sekitar 2,5 juta pertahun. (Kompas, 7 agustus 2004) Berdasarkan latar belakang diatas diduga terdapat hubungan kausalitas antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga dalam skripsi ini penulis mengambil judul
Analisis Kausalitas Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Studi Kasus Perekonomian
Indonesia Periode 1994.1 - 2003.4) dengan Metode Error Correction Model.


Baca Selengkapnya..

  



Comments :

2 Komentar Kritis to “SKRIPSI : ANALISIS KAUSALITAS INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI (Kasus Perekonomian Indonesia Tahun 1994.1 – 2003.4) Dengan Metode Error Corection Model (Yunita Setyawati)”

kunjungan perdana Gan...
salam sukses selalu... :)

Btw, Nice share...

kalo sempat mampir ke gubug saya ya...
:D

ivan lionel andreas said...
on 

wahhh,, manteb nih sobat :)

thanks udah share

muhammad hidayat said...
on 

Post a Comment

[ Gunakan Kotak Komentar Pop Up untuk Berkomentar ]

Gunakanlah hak suara anda pada kotak dibawah ini secara profesional.