Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 26 Mei 2011

PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, KURS DAN JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP INDEKS LQ45


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument. Salah satu faktor yang membatasi perkembangan ekonomi di dunia ketiga adalah tidak tersedianya tabungan dan investasi pada perusahaan-perusahaan yang produktif. Pada sisi lain sesungguhnya banyak Negara berkembang memiliki tabungan yang cukup besar untuk diinvestasikan pada barang modal, tetapi tidak didukung dengan adanya system keuangan yang memadai untuk Keputusan untuk membiayai investasi, menyangkut penentuan sumbersumber dana yang akan dipergunakan. Investasi diartikan sebagai suatu kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih asset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh penghasilan dan atau peningkatan nilai investasi. Investasi dalam arti luas merupakan pengorbanan sejumlah uang saat ini untuk memperoleh sejumlah uang di masa yang akan datang. Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Menurut Jogiyanto dikatakan bahwa, investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk dapat digunakan dalam produksi efisien selama periodewaktu tertentu. Definisi berikutnya adalah menurut Tandelilin (2001), investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang di lakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Menurut Husnan (1998) menyatakan investasi adalah setiap penggunaan uang dengan maksud untuk memperoleh penghasilan. Menurut bentuknya investasi dibedakan menjadi investasi dalam aktiva finansial (financial investment) dan investasi dalam aktiva riil (real investment). Investasi dalam aktiva finansial lebih merupakan kepemilikan hak klaim atau aktiva yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk dokumen legal yang kemudian disebut sebagai sekuritas (surat berharga), sedangkan untuk investasi dalam aktiva riil berupa aktiva berwujud yang tampak nyata (bangunan, tanah, dsb). Seorang investor yang menghendaki tingkat pengembalian yang tinggi, tentu akan menghadapi risiko yang tinggi pula. Untuk menyikapi hal tersebut, maka salah satu caranya adalah dengan menggunakan upaya diversifikasi yang tepat diantara bermacam-macam bentuk pilihan investasi yang ada. Keputusan investasi adalah suatu analisis investasi yang selalu melibatkan empat unsur pokok pertimbangan. Unsur pokok keputusan investasi
antara lain kondisi pemodal, motif investasi, karakteristik instrumen dan teknik serta model analisis. Pendapat lain, ”Keputusan investasi selalu mempertimbangkan risiko dan ketidakpastian” (Mulyadi,1989 )
Berdasarkan pengertian di atas maka memegang uang kas atau tunai bukan merupakan investasi karena kas tidak memberikan penghasilan dan nilainya akan turun jika terjadi inflasi. Sebaliknya menempatkan kas pada tabungan di bank merupakan investasi karena tabungan memberikan penghasilan atau kembalian (return) dalam bentuk bunga. Demikian pula pembelian saham merupakan salah satu jenis investasi beruapa asset keuangan (Financial asset), karena saham memberikan penghasilan dalam bentuk deviden, serta nilainya dapat diharapkan meningkat di masa depan. (Farid Harianto, 1998). Pada umumnya investor akan tertarik pada investasi yang dipandang dapat memberikan penghasilan relatif lebih baik daripada bila diinvestasikan ke yang lain atau dengan kata lain berinvestasi pada instrument yang lebih menguntungkan. Hal itu disebabkan investor pada umumnya bertujuan untuk memaksimumkan keuntungan. Tujuan investasi saham dapat dibedakan menjadi dua yaitu, investor yang tujuan untuk memiliki saham yang kemudian disimpan sementara dan akan dijualnya kembali apabila diperoleh pendapatan karena perbedaan harga (Capital Gain) dan investasi saham yang tujuannya untuk memiliki saham dalam jangka waktu yang relative panjang dan pengharapan utamanya adalah deviden.
Dengan memiliki saham maka pemodal mempunyai klaim kepemilikan
kepada perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut, sedangkan obligasi
memberikan klaim hutang kepada pemilik obligasi tersebut. Kebutuhan akan dana dalam jumlah yang besar dan dalam jangka waktu yang panjang, salah satu alternatifnya dapat dapat dipenuhi melalui pasar modal. Oleh sebab itu adalah perlu untuk mengembangkan pasar modal di Negara-negara sedang berkembang Setiap instrument investasi mengandung potensi resiko yang berbeda-beda. Tetapi prinsip yang berlaku adalah semakin besar potensi hasil suatu investasi, instrument tersebut mempunyai potensi resiko yang semakin besar. Demikian pula dalam pasar modal. Resiko investasi sahamnya dibedakan menjadi dua yaitu resiko non sistematik dan sistematik. Resiko non sistematik adalah berhubungan dengan faktor mikro. Resiko ini bisa diminimalkan karena berhubungan dengan lingkungan mikro perusahaan dengan cara menyeleksi asset dengan teliti dan diversifikasi. Resiko perusahaan misalnya menyangkut besar kecilnya hutang (financial risk) dan sifat bisnisnya (business risk). Resiko industri adalah resiko yang muncul karena sifat sektor yang menjadi garapan perusahaan. Sedangkan resiko sistematik adalah yang berkaitan dengan kondisi makro suatu Negara. Jika perekonomian suatu Negara buruk, maka kinerja perusahaan di Negara tersebut akan mengecewakan. Investasi saham yang dipengaruhi kondisi makro suatu Negara ini ada yang bersifat menyebar. Salah satunya adalah resiko penurunan daya beli karena inflasi.
Dalam perekonomian dunia, nilai mata uang tidak pernah ada yang stabil. Disisi lain, harga-harga barang dan jasa cenderung mengalami peningkatan. Keadaan ini akan mengakibatkan daya beli mata uang tersebut menjadi turun yang mengakibatkan terjadinya inflasi. Dengan semakin meningginya angka inflasi maka perekonomian akan memburuk, sehingga hal ini akan berdampak turunnya keuntungan suatu perusahaan, yang mengakibatkan pergerakan harga saham (efek ekuitas) menjadi kurang kompetitif. Oleh karena itu kebijakan pemerintah untuk mengontrol laju inflasi menjadi hal yang sangat penting. Salah satunya adalah dengan melakukan penentuan tariff suku bunga di pasar keuangan. Suku bunga dapat dijadikan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu sistem perekonomian. Pada saat permintaan uang terlalu tinggi, sirkulasi uang di masyarakat terlalu besar, maka pemerintah dapat menaikkan suku bunga, agar penawaran uang meningkat dan permintaan uang turun. Dan sebaliknya pemerintah dapat menurunkan suku bunga untuk memberikan dukungan dan mempercepat pertumbuhan di sektor ekonomi dan industri, sehingga mendorong atau meningkatkan produksi menjadi lebih tinggi. Dengan adanya peningkatan produksi tersebut diharapkan mampu menurunkan laju inflasi dan menaikkan keuntungan perusahaan, yang berdampak positif pada perkembangan pasar modal. Terkait dengan peranan vital indikator moneter di dalam perekonomian, maka untuk meperkirakan kondisi perekonomian para pemodal perlu memperhatikan kemungkinan perubahan jumlah uang beredar. Umumnya diharapkan terdapat hubungan antara perubahan jumlah uang beredar dangan perubahan saham. Beberapa studi awal memang menunjukkan bahwa terdapat hubungan tersebut. Meskipun demikian, beberapa penelitian berikutnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu Sychronous, tetapi mungkin menunjukkan bahwa perubahan pasar dipengaruhi oleh perubahan jumlah uang beredar di masa yang akan datang. Pertumbuhan jumlah uang beredar yang terjadi secara wajar akan memberikan pengaruh positif terhadap ekonomi dan pasar saham secara jangka pendek, namun pertumbuhan yang drastis akan memicu inflasi yang tentunya memberikan pengaruh negatif. Selain Inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar variabel lain adalah Nilai tukar (kurs). Nilai tukar mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing $US. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat internasional terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing $US oleh masyarakat karena perannya sebagai alat pembayaran internasional. Kinerja uang khususnya pasar luar negeri diukur melaluji kurs rupiah, terutama mata uang dolar AS. Semakin menguat kurs rupiah sampai batas tertentu berarti menggambarkan kinerja di pasar uang semakin menunjukkan perbaikan. Sebagai dampak meningkatnya laju inflasi maka nilai tukar mata uang domestik semakin melemah terhadap mata uang asing, hal ini mengakibatkan harga saham akan mengalami penurunan, dan investasi di pasar modal menjadi kurang diminati. Kemudian didasari oleh penelitian terdahulu Hidayat telah melakukan penelitian bahwa tingkat bunga minimum yang diwakili suku bunga bank Indonesiav(SBI) sebagai dasar untuk menetapkan tingkat pengembalian investasi (return) seharusnya berkorelasi positif, namun jika kenaikan tingkat suku bunga minimum (SBI) sedemikian tinggi, maka harga saham akan bereaksi secara negatif yaitu harga saham menurun. Sedangkan perubahan sebaliknya atas suku bunga maka akan
menaikkan harga saham. Tendi Haruman dkk meneliti pengaruh fundamental makro ekonomi dan resiko sistematis terhadap tingkat pengembalian saham BEJ, menunjukkan bahwa variabel EPS, PER, kurs dan beta memiliki koefisien arah positif signifikan sedangkan tingkat inflasi memiliki koefisien arah negatif signifikan dimana kesemua variabel tersebut mempunyai pengaruh baik secara parsial maupun bersama-sama terhadap tingkat pegembalian saham individu.
Rustam Hidayat (2001) meneliti pengaruh tingkat pengembalian pasar, tingkat inflasi, suku bunga deposito, harga emas, pendapatan nasional bersih dan nilai tukar terhadap return saham, menunjukkan bahwa tingkat pengembalian pasar, tingkat inflasi, suku bunga deposito, harga emas, berpengaruh siginifikan dengan return saham, sedangkan pendapatan nasional bersih dan nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Geske dan Roll (1983) meneliti bahwa Exchange Rates mempengaruhi harga saham pada perdagangan efek. Hal ini disebabkan karena Depresiasi mata uang domestik menaikkan volume ekspor. Sehingga diperlukan demand ekspor barang yang elastis yang mengakibatkan aliran uang yang tinggi bagi perusahaan domestik, kemudian menaikkan harga saham. Mark dan Aris (2001) meneliti bahwa hanya money supply yang mempengaruhi level dan volatility dari equity returns. Agregat yang popular seperti industial production, personel incaome dan sales tidak berpengaruh siginifikan terhadap kondisi volatility ataupun volume perdagangan. GNP riil menunjukkan pengaruh yang rendah terhadap kondisi return volatility dan tidak berpengaruh terhadap volume perdagangan
Dalam penelitian ini variabel makro yang akan digunakan adalah inflasi, suku bunga, nilai tukar (kurs) dan jumlah uang yang beredar. Sementara data yang digunakan adalah LQ-45, hal ini disebabkan karena saham-saham yang masuk dalam perhitungan LQ-45 dipandang mencerminkan pergerakan saham yang aktif diperdagangkan dan juga mempengaruhi keadaan pasar, terdiri dari saham dengan likuiditas dan kapabilitas pasar yang tinggi memiliki prospek pertumbuhan serta kondisi keuangan yang cukup baik. Dan juga BEI terus memantau perkembangan yang masuk dalam perhitungan index LQ-45, setiap 6 bulan sekali dilakukan review pergerakan rangking saham dan untuk menjamin kewajaran pemilihan saham, sehingga jika ada saham yang tidak memenuhi kriteria tidak akan dimasukkan dalam indeks LQ-45 dan digantikan dengan saham yang lain yang memenuhi kriteria.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Indeks LQ45
Indeks LQ45 merupakan indeks yang diperkenalkan BEI mulai tanggal 24 Februari 1997 dan dengan hari dasar tanggal 13 Juli 1994. Indeks ini meliputi jenis saham yang harus memenuhi kriteria yang ditentukan dan indeks LQ45 ini akan ditinjau setiap tiga bulan sekali untuk mengecek saham-saham yang termasuk dalam LQ45. Untuk menentukan saham-saham yang termasuk LQ45, maka digunakan dua tahap seleksi. Tahap pertama, kriteria yang harus dipenuhi adalah :
a.       Saham tesebut berada di top 95 persen dari total rata-rata tahunan nilai
transaksi saham di pasar regular
b.       Berada di top 90 persen dari rata-rata tahunan kapitalisasi pasar
c.       Tercatat di BEI minimum 30 hari bursa
Jika lolos tahap pertama, maka dilanjutkan tahap berikutnya. Tahap kedua
menyangkut kriteria sebagai berikut :
a.       Merupakan urutan tertinggi yang mewakili sektornya dalam klasifikasi
industri BEI
b.       Memiliki porsi yang sama dengan sektor-sektor lain
c.       Merupakan urutan tertinggi berdasarkan frekuensi transaksi
Indeks LQ45 ini menggunakan metode rata-rata tertimbang (weighted average)
dengan rumus Paasche. Seperti yang digunakan pada IHSG BEI. Jadi jelas dari
kriteria yang ditetapkan akan meloloskan saham-saham yang mempunyai kapitalisasi pasar serta likuiditas tinggi. Indeks LQ45 juga mencakup saham-saham dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas yang tinggi serta mewakili masing-masing sector industri.
Metode tertimbang (weighted average methode) merupakan suatu metode yang menambahkan bobot dalam perhitungan indeks disamping harga harga pasar saham dan harga dasar saham. Pembobotan yang dilakukan dalam perhitungan indeks pada umumnya adalah jumlah saham yang dikeluarkan. Menurut Paasche, jumlah saham yang dikeluarkan oleh emiten yang bersangkutan pada saat perhitungan indeks akan memberikan hitungan yang lebih mencerminkan keadaan sebenarnya. Sebab banyaknya saham yang dikeluarkan sangat berpengaruh terhadap likuiditas suatu saham. Suatu saham yang likuid akan memberikan pengaruh besar terhadap bursa efek secara keseluruhan.




Dalam rumus Paasche tersebut diatas. (PS × SS ) merupakan rumus dari market capitalization (kapitalisasi pasar), yang merupakan jumlah dari kapitalisasi pasar seluruh saham yang tergabung dalam indeks yang bersangkutan. Sedangkan (PBase × SS) merupakan rumus dari Base Value (nilai dasar), yang berarti jumlah seluruh Base Value dari saham-saham yang tergabung dalam indeks bersangkutan. Jadi rumus Paasche membandingkan kapitalisasi seluruh saham dengan nilai dasar seluruh saham dalam suatu indeks. Dalam hal ini makin besar kapitalisasi suatu saham, maka akan memberikan pengaruh yang sangat besar jika terjadi perubahan harga pada saham yang bersangkutan.
Penelitian terdahulu mengenai pengaruh variabel-variabel makro ekonomi terhadap pasar saham telah banyak dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang berbedabeda dengan hasil yang berbeda-beda pula. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh variabel makro ekonomi terhadap pasar saham. Fama (1981) menemukan bukti empiris mengenai hubungan negative stock return dengan tingkat inflasi. Lebih lanjut Fama mengungkapkan bahwa stock return dengan aktifitas ekonomi Dalam penelitian yang dilakukan Solnik (1996) menggunakan regresi stock market return dengan suku bunga dan perubahan tingkat menunjukkan penemuan yang konsisten terhadap hubungan negative antara bunga untuk setiap Negara. Claude et.al(1996) meneliti tentang political risk, financial risk, dan ekonomi risk menemukan bahwa faktor teknikal (politik, ekonomi dan financial) merupakan informasi yang sangat penting untuk memprediksi return bagi pasar modal development, sedangkan di pasar modal emerging (emerging capital market) return saham dipengaruhi oleh political ratio secara marginal. Sementara untuk factor ekonomi tidak ditemukan adanya hubungan dengan return saham Adler Manurung (1994) dalam penelitiannya menghasilkan rata-rata rate of return investasi di Bursa efek Indonesia sebesar 1,39 persen dibawah rata-rata perubahan inflasi di Indonesia dan semua investasinya berhubungan negative dengan  kecuali pasar uang. Enny Pudjiastuti (2000), yang meneliti pengaruh return pasar terhadap tingkat inflasi, suku bunga deposito terhadap return di industri dasar dan kimia yang list 1997 – 1999. Hanya 6 saham (dari 30 saham) yang menunjukkan bahwa inflasi mempunyai hubungan positif, dan 2 saham menunjukkan hubungan negatif.
Sebagaimana diuraikan dalam pembahasan terdahulu bahwa inflasi, suku bunga, Jumlah uang beredar dan kurs berpengaruh terhadap return saham individu saham LQ45, Inflasi yang tinggi akan menyebabkan suku bunga akan meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi. Dalam kondisi inflasi biasanya pemerintah akan menaikkan suku bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Namun kenaikan bunga tersebut akan menyebabkan investor enggan melakukan investasi karena bunga pinjaman yang harus dibayarkan menjadi lebih tinggi. Pada kondisi ini investor lebih suka menyimpan dana di bank dan memperoleh pendapatan dari bunga tabungan dan pasar saham menjadi tidak menarik. Kenaikan tingkat bunga akan mengakibatkan harga saham bereaksi secara negatif yaitu harga saham menurun dengan demikian return saham akan turun.
Sedangkan perubahan sebaliknya atas suku bunga maka akan menaikkan return saham. Jumlah uang beredar dengan pertumbuhan yang wajar memberikan pengaruh positif terhadap ekonomi dan pasar ekuitas secara jangka pendek. Pertumbuhan yang drastis akan memicu inflasi yang tentunya memberikan pengaruh negatif terhadap pasar ekuitas.
Hubungan antara Nilai tukar mata uang asing dan pasar saham adalah negatif, melemahnya rupiah memberikan pengaruh negatif terhadap pasar ekuitas, karena menyebabkan pasar ekuitas menjadi tidak mempunyai daya tarik.

2.2 Inflasi
Inflasi didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus (Boediono, 1982). Kenaikan harga dari satu atau dua macam barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi kecuali kenaikan tersebut membawa dampak terhadap kenaikan harga sebagian besar barang-barang lain. Secara garis besar ada tiga kelompok teori inflasi, masing-masing teori ini menyatakan aspek-aspek tertentu dari proses inflasi dan masing-masing bukan teori inflasi yang lengkap yang mencakup semua aspek penting dari proses kenaikan harga. Ketiga teori itu adalah : teori kuantitas, teori Keynes, dan teori strukturalis.
Teori kuantitas uang adalah teori yang paling tua mengenai inflasi, namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi pada saat ini terutama di negara sedang berkembang. Teori ini menyoroti peranan penambahan jumlah uang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga. Intinya adalah sebagai berikut :
a) Inflasi hanya biasa terjadi kalau ada penambahan jumlah uang beredar.
Dengan bertambahnya uang beredar secara terus menerus, masyarakat akan
merasa kaya sehingga akan menaikkan konsumsinya, dan keadaan ini akan
menaikkan harga
b) Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan
oleh harapan masyarakat mengenai kenaikan harga di masa yang akan datang.
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat menginginkan barang dan
jasa yang lebih besar daripada yang mampu disediakan oleh masyarakat itu sendiri. Proses inflasi menurut kelompok ini adalah proses perebutan bagian rejeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari apa yang mampu disediakan oleh masyarakat. Hal ini menimbulkan inflationary gap karena permintaan total melebihi jumlah barang yang tersedia.
Teori Strukturalis memberikan titik tekan pada ketegaran atau infleksibilitas dari struktur perekonomian negara-negara berkembang. Faktor strukturalis inilah yang menyebabkan perekonomian negara sedang berkembang berjalan sangat lambat dalam jangka panjang. Teori ini disebut inflasi jangka panjang. Menurut teori ini ada dua faktor utama yang dapat menimbulkan inflasi .
Pertama, ketidakelastisan penerimaan ekspor, yaitu pertumbuhan nilai ekspor yang lamban dibanding dengan pertumbuhan sector-sektor lain. Hal ini disebabkan dua faktor utama yaitu : Jenis barang ekspor yang kurang responsif terhadap kenaikan harga dan nilai tukar barang ekspor yang semakin memburuk. Kedua, ketidakelastisan produksi bahan makanan di dalam negeri.  Dalam hal ini laju pertumbuhan bahan makanan di dalam negeri tidak secepat laju pertumbuhan penduduk dan laju pendapatan perkapita. Akibat dari ini terjadi kenaikan harga barang lainnya. Karena inflasi berpengaruhi terhadap tingkat investasi, maka aktivitas perdagangan di bursa saham akan terpengaruhi. Aktifitas perdagangan saham akan mempengaruhi kemungkinan perolehan keuntungan. Dengan demikian inflasi berpengaruh terhadap aktifitas di pasar saham. Penelitian yang dilakukan Nelson (1976) , Jaffe dan Mandelker (1976), Fama (1981) menunjukkan hubungan negative antara inflasi dan stock market return.
2.3 Suku Bunga
Suku bunga adalah ukuran keuntungan investasi yang dapat diperoleh pemilik modal dan juga merupakan ukuran biaya modal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan atas penggunaan dana dari pemilik modal (Suseno TW Hg, 1990). Bagi investor bunga deposito menguntungkan karena suku bunganya yang relatif lebih tinggi dibandingkan bentuk simpanan lain, selain itu bunga deposito tanpa resiko (risk Free). Kebijakan bunga rendah akan mendorong masyarakat untuk memilih investasi dan konsumsinya daripada menabung, sebaliknya kebijakan meningkatkan suku bunga simpanan akan menyebabkan masyarakat akan lebih senang menabung daripada melakukan investasi atau konsumsi. Dari sisi perusahaan, Weston dan righam (1998) mengatakan bahwa suku bunga mempengaruhi laba perusahaan dengan dua cara yaitu :
1. Karena bunga merupakan biaya, maka makin tinggi tingkat suku bunga
makin rendah laba perusahaan apabila hal-hal lain dianggap konstan.
2. Suku bunga mempengaruhi tingkat aktifitas ekonomi dan karena itu
mempengaruhi laba perusahaan. Suku bunga tidak diragukan lagi mempengaruhi harga saham karena pengaruhnya terhadap biaya dan modal. Berdasarkan hal tersebut maka hubungan antara suku bunga deposito dengan kinerja saham adalah negatif
2.4 Kurs mata uang asing
Uang merupakan alat tukar yang dapat diterima secara umum. Persoalannya lebih rumit jika menyangkut urusan di luar batas negara. Karena pada umumnya perdagangan antar negara dapat berlangsung jika dimungkinkan menukar mata uang suatu negara menjadi mata uang negara lain. Nilai tukar atau kurs satu mata uang terhadap lainnya merupakan bagian dari proses valuta asing. Istilah valuta asing mengacu pada mata uang asing aktual atau berbagai klaim atasnya, seperti deposito bank atau surat sanggup bayar yang diperdagangkan.
Kenaikan harga valuta asing disebut depresiasi atas mata uang dalam negeri. Mata uang asing menjadi lebih mahal, ini berarti nilai relatif mata uang  dalam negeri merosot. Turunnya harga valuta asing disebut apresiasi mata uang dalam negeri. Mata uang asing menjadi lebih murah, ini berarti nilai relatif mata uang dalam negeri meningkat. Perubahan nilai tukar valuta asing disebabkan karena adanya perubahan permintaan atau penawaran dalam bursa valuta asing (hukum penawaran dan permintaan). Banyak sebab yang melatarbelakangi perubahan ini, seperti: Neraca ekspor impor, aliran modal, perubahan struktur, neraca perdagangan dan lain-lain.
Kurs rupiah dengan kurs mata uang asing akan mempengaruhi harga saham emiten. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut: kurs rupiah akan mempengaruhi penjualan perusahaan (terutama untuk emiten yang berorientasi bisnis ekspor), Cost Of Good Sold (mempengaruhi pembelian bahan baku apabila diperoleh dari impor), dan rugi kurs. Khusus untuk rugi kurs, terutama bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, akan sangat terpengaruh oleh depresiasi maupun apresiasi rupiah. . Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (dolar amerika) berdampak terhadap meningkatnya biaya impor bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan perusahaan sehingga mengakibatkan meningkatnya biaya produksi, atau dengan kata lain melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar memiliki pengaruh negatif terhadap ekonomi nasional yang pada akhirnya menurunkan kinerja saham di pasar saham.

2.5 Jumlah uang beredar
Definisi yang berbeda tentang jumlah uang yang beredar mencakup juga
berbagai jenis deposito yang berlainan. Jumlah uang beredar merupakan suatu stok, yang dirumuskan secara sempit ( M1) meliputi uang kartal dan deposito yang dapat digunakan sebagai alat tukar. Sebelum tahun 1980, ketika perbedaan antara giro dan deposito berjangka masih cukup jelas, uang beredar dalam arti sempit dirumuskan sekedar sebagai jumlah uang kartal dan deposito berjangka. Perkembangan pasar uang membuat makin meluasnya pengertian M1. Definisi yang lebih luas lagi mencakup M2 dan M3. Yang disebut M2 adalah M1 ditambah dengan tabungan dan segala jenis deposito berjangka yang lebih pendek termasuk juga rekening pasar uang dan pinjaman semalam antar bank. Sedangkan M3 adalah M2 ditambah dengan beberapa komponen.     Komponen yang terpenting adalah sertifikat deposito. Sertifikat deposito adalah deposito tabungan, yang dibuktikan dengan surat atau sertifikat ketimbang catatan dalam buku tabungannya.
Berbagai teori permintaan uang telah dikembangkan oleh beberapa
ahli/ilmuawan. Salah satu teori yang banyak ditelaah dan dibahas oleh sejumlah
ekonom dunia adalah teori Keynessian. Menurut John Maynard Keynes, permintaan terhadap uang merupakan tindakan rasional. Meningkatnya permintaan uang akan menaikkan suku bunga. Investasi pada surat berharga (obligasi) pada saat suku bunga naik akan mengakibatkan kerugian capital gain , dari sisi lain apabila suku bunga turun, permintaan surat berharga akan naik. erdapat tiga macam tujuan seseorang memegang uang tunai, yaitu motif transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Permintaan uang tunai untuk tujuan transaksi menunjukkan jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan membiayai transaksi/pengeluaran yang sifatnya tertentu (perbulan) membayar dalam jumlah tetap dan rutin. Permintaan uang tunai untuk berjaga-jaga menunjukkan uang tunai yang diminta untuk bertujuan untuk tujuan membiayai transaksi/pengeluaran yang sifatnya bukan rutin dan bukan spekulatif. Jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga dipengaruhi secara positif oleh tingkat pendapatan. Artinya semakin besar tingkat pendapatan semakin besar pula jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga, dan sebaliknya. Permintaan uang tunai untuk tujuan spekulasi menunjukkan jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan membiayai transaksi/pengeluaran yang sifatnya spekulatif. Misalnya membeli surat berharga (obligasi) atau saham. Jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan spekulasi dipengaruhi secara negatif oleh suku bunga. Artinya semakin tinggi suku bunga semakin sedikit jumlah uang tunai yang diminta untuk tujuan spekulasi, dan sebaliknya. Sehingga jumlah uang yang beredar akan berpengaruh secara positif terhadap kinerja saham.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
inflasi, suku bunga, Jumlah uang beredar dan kurs berpengaruh terhadap return  saham individu saham LQ45, Inflasi yang tinggi akan menyebabkan suku bunga akan meningkat dan akan mengurangi tingkat investasi. Dalam kondisi inflasi biasanya pemerintah akan menaikkan suku bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Namun kenaikan bunga tersebut akan menyebabkan investor enggan melakukan investasi karena bunga pinjaman yang harus dibayarkan menjadi lebih tinggi. Pada kondisi ini investor lebih suka menyimpan dana di bank dan memperoleh pendapatan dari bunga tabungan dan pasar saham menjadi tidak menarik. Kenaikan tingkat bunga akan mengakibatkan harga saham bereaksi secara negatif yaitu harga saham menurun dengan demikian return saham akan turun.
Sedangkan perubahan sebaliknya atas suku bunga maka akan menaikkan return saham. Jumlah uang beredar dengan pertumbuhan yang wajar memberikan pengaruh positif terhadap ekonomi dan pasar ekuitas secara jangka pendek. Pertumbuhan yang drastis akan memicu inflasi yang tentunya memberikan pengaruh negatif terhadap pasar ekuitas.
Hubungan antara Nilai tukar mata uang asing dan pasar saham adalah negatif, melemahnya rupiah memberikan pengaruh negatif terhadap pasar ekuitas, karena menyebabkan pasar ekuitas menjadi tidak mempunyai daya tarik.
3.2 Saran
Pembuatan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan sumber yang kami peroleh. Sehingga isi dari makalah ini masih bersifat umum, oleh karena itu kami harapkan agar pembaca bisa mecari sumber yang lain guna membandingkan dengan pembahasan yang kami buat, guna mengoreksi bila terjadi kelasahan dalam pembuatan makalah ini.


Comments :

2 Komentar Kritis to “PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, KURS DAN JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP INDEKS LQ45”

kita juga punya nih artikel mengenai Pengaruh investasi, silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3436/1/Jurnal%20Disclosure%20Index_2.pdf
semoga bermanfaat

andiny oktariana mengatakan...
on 

Sepertinya simpulan makalah ini kurang tepat. Hubungan antara nilai tukar dan ekuitas itu positif. Saya kurang paham ekonomi, tapi statistik setahun ini berkata demikian.

AMYunus mengatakan...
on 

Poskan Komentar

[ Gunakan Kotak Komentar Pop Up untuk Berkomentar ]

Gunakanlah hak suara anda pada kotak dibawah ini secara profesional.