Powered by Blogger.

Monday, 28 March 2011

Landasan Pendidikan Pancasila


A.      Landasan Historis

      Secara historis nilai-nilai yang terkandung di setiap sila Pancasila sebelum dimasukkan dan disahkan menjadi dasar Negara,  telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Segi historis mengungkapkan bahwa sebelum lahirnya kerajaan-kerajaan besar di bumi Nusantara, kehidupan manusianya di masa itu telah menunjukkan ciiri-ciri, sikap dan perilaku yang mencerminkan penjiwaan atas sila-sila Pancasila, misalnya adanya kepercayaan terhadap kekuatan ghaib (pemujaan roh-roh halus), saling tolong menolong dan hidup penuh toleransi serta bermusyawarah bagi terwujudnya kondisikehidupan yang aman. Berdasarkan fakta objektif historis inilah bangsa Indonesia tidaklah mungkin dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila. Atas dasar alasan historis maka penting bagi generasi penerus bangsa (terlebih m     ahasiswa/kalangan intelektual) untuk mengkaji, memhami dan mengembangkan berdasarkan pendekatan ilmiah, sehingga pada akhirnya diharapkan memiliki suatu kesadaran dan wawasan kebangsaan yang kuat berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya sendiiri karena melekat dan berasal dari bangsa sendiiri.


B.     Landasan Kultural
      Setiap bangsa manapun di dunia dalam hidup bermasyarakat (berbangsa dan bernegara) senantiasa memiliki suatu pandangan hidup (falsafah hidup) yang berbeda dengan angsa lainnya,  agar tidak terombang-ambing dalam kancah pergulan masyarakat Internasional. Negara Komunisme misalnya mendasarkan idiologinya pada suatu konsep pemikiran Karl Marx.
      Berbeda dengan bangsa lain, Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada nilai-nilai cultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu senndiri. Nilai-nilai yang terkandung di dalam sila-sila Pancasila bukan merupakan hasil pemikiran konseptul seseorang tetapi merupakan hasil karya bangsa Indonesia, karena diangkat dari nilai-nilai cultural bangsa Indonesia melalui proses refleksi para tokoh pendiri Negara.
Menurut Ir. Soekarno Pancasila digali dari bumi Indonesia dan dikristalisasikan dari nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan rakyat Indonesia yang beraneka ragam. Dengan kata lain Pancasila telah menjadi living reality sebelum berdirinya NKRI. Atas dasar inilah para generasi penerus bangsa terlebih kalangan intelektual kampus untuk wajib mendalami/memahami dan mengembangkannya sesuai dengan tuntutan jaman.
Unsur-unsur Pancasila berasal dari bangsa Indonesia sendiri, walaupun secara formal Pancasila baru menjadi dasar Negara Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, namun jauh sebelum tanggal tersebut bangsa Indonesia telah memiliki unsur-unsur Pancasila dan bahkan melaksanakan di dalam kehidupan mereka. Sejarah bangsa Indonesia memberikan bukti yang dapat kita cari dalam berbagai adat istiadat, tulisan, bahasa, kesenian, kepercayaan, agama dan kebudayaan pada umumnya misalnya:
Di Indonesia tidak pernah putus-putusnya orang percaya kepada Tuhan, bukti-buktinya: bangunan peribadatan, kitab suci dari berbagai agama dan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, upacara keagamaan pada peringatan hari besar agama, pendidikan agama, rumah-rumah ibadah, tulisan karangan sejarah/dongeng yang mengandung nilai-nilai agama. Hal ini menunjukkan kepercayaan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Bangsa Indonesia terkenal ramah tamah, sopan santun, lemah lembut dengan sesama manusia, bukti-buktinya misalnya bangunan padepokan, pondok-pondok, semboyan aja dumeh, aja adigang adigung adiguna, aja kementhus, aja kemaki, aja sawiyah-wiyah, dan sebagainya, tulisan Bharatayudha, Ramayana, Malin Kundang, Batu Pegat, Anting Malela, Bontu Sinaga, Danau Toba, Cinde Laras, Riwayat dangkalan Metsyaha, membantu fakir miskin, membantu orang sakit, dan sebagainya, hubungan luar negeri semisal perdagangan, perkawinan, kegiatan kemanusiaan; semua meng-indikasikan adanya Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Bangsa Indonesia juga memiliki ciri-ciri guyub, rukun, bersatu, dan kekeluargaan, sebagai bukti-buktinya bangunan candi Borobudur, Candi Prambanan, dan sebagainya, tulisan sejarah tentang pembagian kerajaan, Kahuripan menjadi Daha dan Jenggala, Negara nasional Sriwijaya, Negara Nasional Majapahit, semboyan bersatu teguh bercerai runtuh, crah agawe bubrah rukun agawe senthosa, bersatu laksana sapu lidi, sadhumuk bathuk sanyari bumi, kaya nini lan mintuna, gotong royong membangun negara Majapahit, pembangunan rumah-rumah ibadah, pembangunan rumah baru, pembukaan ladang baru menunjukkan adanya sifat persatuan.
Unsur-unsur demokrasi sudah ada dalam masyarakat kita, bukti-buktinya: bangunan Balai Agung dan Dewan Orang-orang Tua di Bali untuk musyawarah, Nagari di Minangkabau dengan syarat adanya Balai, Balai Desa di Jawa, tulisan tentang Musyawarah Para Wali, Puteri Dayang Merindu, Loro Jonggrang, Kisah Negeri Sule, dan sebagainya, perbuatan musyawarah di balai, dan sebagainya, menggambarkan sifat demokratis Indonesia;
Dalam hal Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, bangsa Indonesia dalam menunaikan tugas hidupnya terkenal lebih bersifat sosial dan berlaku adil terhadap sesama, bukti-buktinya adanya bendungan air, tanggul sungai, tanah desa, sumur bersama, lumbungdesa, tulisan sejarah kerajaan Kalingga, Sejarah Raja Erlangga, Sunan Kalijaga, Ratu Adil, Jaka Tarub, Teja Piatu, dan sebagainya, penyediaan air kendi di muka rumah, selamatan, dan sebagainya.

Pancasila sebenarnya secara budaya merupakan kristalisasi nilai-nilai yang baik-baik yang digali dari bangsa Indonesia. Disebut sebagai kristalisasi nilai-nilai yang baik. Adapun kelima sila dalam Pancasila merupakan serangkaian unsur-unsur tidak boleh terputus satu dengan yang lainnya. Namun demikian terkadang ada pengaruh dari luar yang menyebabkan diskontinuitas antara hasil keputusan tindakan konkret dengan nilai budaya.



C.     Landasan Yuridis
      Landasan yuridis perkuliahan pendidikan Pancasila di Pendidikan Tinggi, yaitu :
-         Undang-undang No. 2 Thn 1989 (Pasal 39) yang menetapkan bahwa : Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan, wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan kewarganegaraan. UU ini telah dibaharui dengan UU No, 20 thn 2003.
-         SK Mendiknas No. 232/U/2000 (Pasal 10 : 1) dijelaskan bahwa : Mata kuliah pengembangan kepribadia wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi yang meliputi : Pendidikan Pancasila, Pendikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
-         SK Dirjen Dikti No. 38/DIKTI/Kep./2002 tentang rambu-rambu pelaksanaan Matakuliah Pengembangan Kepribadian. Pada Pasal 3 dijelaskan bahwa kompetensi kelompok matakuliah MPK bertujuan menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia intelektual.
D.    Landasan Filosofis
      Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum menderikan Negara, adalah sebagai bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa manusia adalah makhluk Tuhan. Syarat mutlak adanya suatu Negara adalah persatuan yang terwujudkan sebagai rakyat (merupakan unsur pokok Negara), sehingga secara filosofis Negara kesatuan dan berkerakyatan. Konsekwensinya rakyat merupakan dasar adanya demokrasi, karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan Negara. Oleh karena Pancasila merupakan dasar filsafat Negara, konsekwensinya dalam setiap aspek realisasi penyelenggaraan negara (termasuk di era reformasi saat ini) harus bersumber pada nilai-nilai Pancasila termasuk sistem perundang-undangan di Indonesia.
I.                   Tujuan Pendidikan Pancasila
Secara umum tujuan pendidikan Nasional, adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratif serta bertanggung jawab, (Pasal 3 UU No. 20/2003).
Tujuan pendidikan Pancasila adalah membentuk watak bangsa yang kukuh, juga untuk memupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Pancasila.
 Tujuan perkuliahan Pancasila adalah agar mahasiswa memahami, menghayati dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara RI, juga menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang beragam masalah dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang hendak diatasi dengan pemikiran yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.






Mengacu pada tujuaan pendidikaan secara umum Secara khusus tujuan pendidikan Pancasila adalah untuk menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dengan sikap dan perilaku;
1.     Memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang   bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya;
2.     Memiliki kemampuan untuk mengenal masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya;
3.     Mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
4.     Memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia.

Comments :

1

Walaupun persatuan Indonesia telah bertunas lama dalam sejarah bangsa Indonesia, akan tetapi semangat kebangsaan atau nasionalisme dalam arti yang sebenarnya seperti kita pahami sekarang ini, secara resminya baru lahir pada permulaan abad ke-20. Ia lahir terutama sebagai reaksi atau perlawanan terhadap kolonialisme dan karenanya merupakan kelanjutan dari gerakan-gerakan perlawanan terhadap kolonial VOC dan Belanda, yang terutama digerakkan oleh raja-raja dan pemimpin-pemimpin agama Islam. Hubungan erat gerakan perlawanan kaum Muslimin dan nasionalisme ini telah diuraikan oleh banyak pakar, misalnya oleh G. H. Jansen dalam bukunya Militant Islam (1979). Namun sebelum menguraikan hubungan ini akan kita lihat dulu unsure-unsur kolonialisme yang menimbulkan semangat perlawanan terhadapnya.

izza sodikin said...
on 

Post a Comment

[ Gunakan Kotak Komentar Pop Up untuk Berkomentar ]

Gunakanlah hak suara anda pada kotak dibawah ini secara profesional.