Powered by Blogger.

Monday, 28 March 2011

Identitas Nasional



A.    Pengertian Identitas
          Pada hakekatnya manusia hidup secara berkelompok atau oleh Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon. Dalam kehidupan bersama, setiap manusia memiliki ciiri khusus yang disebut identitas atau jati diri yang melekat pada seseorang. Identitas berarti ciri khusus yang membedakannya dengan orang lain. Pengertian identitas tidak mengacu pada seseorang atau individu tetapi mengacu pada sekelompok tertentu. Istilah identias berasal dari bahasa Inggris identity yang berarti : ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain.
          Kata nasional merujuk pada konsep kebangsaan. Nasional merujuk pada kelompok-kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar yang terikat oleh kesamaan-kesamaan, misalnya budaya, agama, bahasa, cita-cita dan sebagainya. Himpunan kelompok inilah kemudian terhimpun dalam suatu bangsa.     
1.      Kebangsaan/Nasionalisme
    Nasionalisme adalah faham modern tentang pengelolaan kehidupan bersama manusia yang semakin kompleks. Seiring dengan perkembangan sosial dan peradaban manusia, maka berkembang pula relasi manusia dalam komunitas mereka, bermula dari kesadaran bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri. Kesadaran ini mendorong bangsa-bangsa yang tertindas penjajahan dan penguasaan bangsa-bangsa lain untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri termasuk Indonesia. Momentum untuk merdeka memotivasi kelompok-kelompok manusia manusia untuk bersama-sama berjuang dalam kerja sama yang terpadu karena merasa senasib dan seperjuangan. Hal inilah merupakan bibit nasionalisme atau kebangsaan.
    Nasionalisme bagi bangsa Indonesia merupakan jiwa kebangsaan mutlak harus ada, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai agama, kebudayaan, suku, bahasa dan lain-lain. Kebulatan tegad untuk mewujudkan nasionalisme tercermin dari manifestasi “Sumpah Pemuda” tanggal 28 Oktober 1928.


2.      Identitas Kebangsaan Indonesia
    Identitas kebangsaan Indonesia dapat ditelusuri dengan mempelajari sejarah perjuangan mencapai kemerdekaan. Dalam upaya mencapai kemerdekaan terjadi sinergi antar kelompok, suku bangsa, etnis, agama maupun daerah yang akhirnya melahirkan Pancasila sebagai dasar negara. Kebangsaan adalah unsur dasar di mana di atasnya hidup secara bersama dan setara segenap orang Indonesia dengan wilayahnya. Kebangsaan (nasionals) adalah faham yang mengajarkan bahwa kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada negara kebangsaan, (Nomensen S, 2010). Sila pertama dari Pancasila versi Ir.Soekarno adalah “kebangsaan/Nasionalisme”, mencirikan kesetaraan semua kelompok menjadi satu dalam status bangsa Indonesia. Identitas ini menundukkan semua orang dari daerah dan kelompok sukunya bergabung menjadi Indonesia sebagai negara. Identitas kebangsaan ini menganulir gagasan mayoritas-minoritas, kuat-lemah, berkuasa dan dikuasai, semuanya adalah bangsa Indonesia.
Apa Identitas nasional Indonesia sesungguhnya? Jika Indonesia bukan Jawa, bukan Sumatera , bukan Islam, bukan Kristen dsb, lalu apa identitas nasional Indonesia? Minimal ciri-ciri utama yang melekat sebagai identias nasional Indonesia adalah :
1.   Pluralisme dan multikulturalisme
        Faktor ini menunjukkan cara hidup bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai perbedaan saling menghargai sebagai sasama bangsa Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa bangsa Indonesia ada karena kemauan berbagai kelompok untuk hidup bersama. Dengan menyadari asal keberadaannya sebagai bangsa Indonesia, maka menghargai pluralitas dan bersikap multikultural harus menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
2.   Kesetaraan
        Dengan identitas pluralitas dan multikulturalis akan membangun intekraksi dan relasi antara manusia Indonesia yang bersifat setara. Paham kesetaraan akan menandai cara berfikir dan perilaku bangsa Indonesia, jika setiap orang Indonesia berdiri di atas realitas  bangsanya yang plural dan multikultural itu. Identitas kesetaraan tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan masyarakat yang didirikan di atas paham dominasi dan kekuasaan satu kelompok terhadap kelompok lain.(Nomensen Sinamo, 2010)
B.     Faktor-faktor Pembentukan Identitas Bersama
          Proses pembentukan bangsa-negara membutuhkan identitas tertentu untuk menyatukan masyarakat bangsa-negara bersangkutan. Faktor-faktor yang diperkirakan membentuk  identitas bersama suatu bangsa, meliputi :
a.      Primordial
Faktor primodial meliputi; ikatan kekerabatan (daerah dan keluarga), kesamaan suku bangsa, daerah asal (homeland), bahasa dan adat istiadat. Faktor primodial merupakan identitas yang menyatukan masyarakat sehingga dapat membentuk bangsa-negara. Contoh Yahudi membentuk negara Israel.
b.      Sakral
Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau idiologi doktriner yang diakui oleh masyarakat bersangkutan. Agama dan idiologi merupakan faktor sakral yang dapat membentuk bangsa-negara. Faktor agama Khatolik mampu membentuk beberapa negara di Amerika Latin. Negara Unisovyet diikat oleh kesamaan idiologi komunis.
c.       Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakt juga dapat menjadi faktor yang menyatukan masyarakat dalam bangsa-negara. Kepemimpinan di beberapa negara dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat dan simpol persatuan bangsa bersangkutan. Contoh Mahatma Gandi di India, Josep Tito di Yugoslavia, Nelson Mandela di Afrika Selatan dan juga Soekarno di Indonesia.
d.      Bhinneka Tunggal Ika
Prinsip Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya adalah kesetiaan warga bangsa untuk bersatu dalam perbedaan. Bersatu dalam perbedaan dimaksud adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut negara dan pemerintahnya, tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa, adat, ras dan agamanya. Disini warga bangsa memiliki kesetiaan ganda. Di satu sisi warga setia pada identitas primordialnya, juga memiliki kesetiaan pada negara dan pemerintah, namun mereka menunjukkan kesetiaan yang lebih besar pada kebersamaan yang terwujud dalam bangsa-bangsa di bawah satu pemerintahan yang sah meskipun berbeda latar belakang.
e.      Sejarah
Persepsi yang sama di antara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat menyatukan diri dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu, misalnya sama-sama menderita akibat penjajahan, tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga melahirkan tekad yang sama antar anggota masyarakat bersangkutan.
f.        Perkembangan ekonomi
Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan fariasi kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung diantara jenis pekerjaan. Tiap orang akan saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semakin kuat saling ketergantungan anggota masyarakat karena perkembangan ekonomi, akan semakin besar solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Solidaritas yang terjadi karena perkembangan ekonomi oleh  Emile Dirkhiem disebut solidaritas organis. Faktor ini berlaku di masyarakat industri maju, seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.
g.      Kelembagaan
Faktor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa berupa lembaga-lembaga pemerintahan dan politik. Lembaga-lembaga seperti birokrasi, angkatan bersenjata, atau partai politik dapat melayani dan mempertemukan warga tanpa membeda-bedakan asal usul dan golongan dalam masyarakat. Kerja dan perilaku suatu lembaga politik dapat mempersatukan orang sebagai suatu bangsa. (Bandingkan dengan Winarno, 2009).
Fakta saat ini, suatu negara relatif homogen yang hanya terdiri dari satu bangsa. Umumnya negara yang terbentuk adalah heterogen.
Beberapa bentuk identitas nasional adalah; bahasa nasional, lambang nasional, semboyan nasional, dan idiologi nasional.  

Comments :

0 Komentar Kritis to “Identitas Nasional”


Post a Comment

[ Gunakan Kotak Komentar Pop Up untuk Berkomentar ]

Gunakanlah hak suara anda pada kotak dibawah ini secara profesional.